Senin, 09 Desember 2013

Navigasi Darat





Waktu Kegiatan          : Sabtu, 16 November 2013
Tempat Kegiatan         :  1. Gunung Balau
                                      2. Air Terjun daerah by pass
                                      3. Gunung Kunyit
                                      4. Pantai Ketapang
Kelompok                   : 1 (Satu)
Anggota Kelompok    :   Aulia Ahmad Nafis               (1315051009)
                                      Alicia Inmas Mauladika        (1315051005)
                                      Egi Ramdhani                       (1315051018)
                                      Harris Lukman Halomoan     (1315051024)
                                      Herlin Lisiana Putri               (1315051025)
                                      Khodijah Hanun                   (1315051028)
                                      Muhammad Aziz Habibi       (1315051037)
                                      Nico Adrian Prianggoro        (1315051038)
                                      Ulfa Wahyuningsih               (1315051056)
                                      Wuri Andari                          (1315051059)


Navigasi darat adalah kegiatan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika Unila (Hima TG Bhuwana) bidang saintek kepengurusan 2013/2014. Kegiatan navigasi darat ini sendiri dikhususkan bagi mahasiswa baru teknik geofisika Unila 2013 sebagai upaya pengenalan lingkungan geologi awal bagi para mahasiswa agar lebih percaya diri untuk melaju ke jenjang ilmu geologi yang lebih tinggi, yang akan kami pelajari dikemudian hari. Dalam nafigasi darat ini, kami mengunjungi beberapa tempat dengan lingkungan geologi yang hampir sama namun dengan kondisi alam yang berbeda-beda. pertama, kegiatan dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga 08.30 WIB kegiatan diisi dengan briefing peserta dan paniti lalu dilanjutkan dengan acara pembukaan navigasi darat. Acara resmi dibuka oleh ketua Hima TG Bhuwana kak Guspriandoko. ia berpesan agar acara navigasi darat ini dapat dimanfaatkan secara optimal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih jauh lapang geologi khususnya di wilayah Lampung. Setelah peserta dirasa siap untuk berangkat, panitia terlebih dahulu mengajarkan kepada peserta cara penggunaan GPS (Global Positioning System) ini dimaksudkan agar ketika mahasiswa terjun ke dunia kerja nantinya, mahasiswa mampu menggunakan alat ini sebagai penunjuk arah pulang ataupun menentukan posisi ketika sedang melakukan kegiatan ekploitasi maupun eksplorasi didalam hutan ataupun daerah lepas pantai. Seletah itu, panitia menjelaskan arah dan rute yang akan dilewati dan yang akan disinggahi peserta. Dan setelah semua siap, peserta dan panitia berangkat pukul 08.30 WIB dari gedung L Fakultas teknik Unila (Jurusan Teknik Geofisika). Sebelumnya, data GPS pertama telah dicatat sebelum keberangkatan perekaman data disebut ploting. Lalu, data GPS kedua dicatat ketika posisi berada didepan BNI Unila.


Perjalanan dilanjutkan dengan mengambil rute Unila – Jalan ZA Pagar alam (belok kiri) dan mengambil belokan kiri arah bay pass, pencatatan data GPS dijalan ini dicatat pada lokasi didepan Rumah Makan Samudra dan bus melaju kembali lalu masuk ke bay pass dan mengambil arah kanan. Pencatatan data GPS dilanjutkan disini yaitu ketika posisi berada didepan Rumah Makan Begadang V atau lebih tepatnya didepan Hotel Nusantara Bandar Lampung. Seletah data dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi pertama yakni Gunung Balau. Dijalan menuju lokasi, kembali diadakan pencatatan data GPS didepan lokasi kerja PT Readymix Indonesia (Way Gutak) hingga pencatatan data GPS berikutnya di Gunung Balau. Pengambilan data GPS yang lumayan banyak ini dimaksudkan untuk mempermudah menemukan jalan pulang nantinya atau mengetahui jalur yang telah kita lewati. Namun, karena ini hanya simulasi, intensitas pencatatan data GPS dikurangi seletah lokasi pertama yakni Gunung Balau.

Dilokasi pertama, yakni Gunung Balau, Peserta diperlihatkan bukit yang telah digerus oleh proyek pabrik dan akibat hal tersebut terlihatlah garis batas antar batuan di gunung tersebut. Pantia yang dalam hal ini diwakili kak Doni menjelaskan bahwa batuan yang berada pada bukit tersebut adalah batuan beku (Tufa) yang teksturnya rapuh atau piroklastik. Dalam bukit tersebut terlihat jalur strike. Yaitu jalur garis lurus horizontal yang merupakan puncak dari patahan atau lipatan.





 

Gambar yang kami peroleh dari tempat pertama ini, resolusinya kurang tinggi sebingga kualitas terlihat buruk. Ini dikarenakan pengamatan dilakukan di buit seberang. Sehingga sebenarnya, lokasi pengamatan kurang dekat dan hasil zoom gambar menjadi buruk. Di lokasi pertama, kami hanya melakukan pengamatan dan pengambilan data GPS. Kondisi medan dan lokasi yang jauh dan terjal serta tepat berada di areal proyek menjadi alasan kami untuk tidak menuju ke lokasi sebenarnya.



Setelah pengamatan cukup dilakukan, dan peserta diberi waktu 10 menit untuk pengambilan gambar, perjalanan dilanjutkan menuju tempat kedua yakni Air Terjun di daerah Bay Pass, atau lebih dikenal dengan Air Terjun Panjang.

Disini, peserta kembali diberikan pengarahan oleh kak Guspri mengenai kondisi alam di daerah tersebut. Dari penjelasan tersebut, kami mendapat informasi bahwa daerah kedua ini pada dasarnya memiliki kondisi alam yang sama dengan lokasi pertama. Lokasi pertama dan keduapun merupakan satu rangkaian pegunungan dengan formasi batuan yang sama dan masuk dalam lokasi sesar panjang lampung. Jadi, jenis batuannya adalah sama yakni batuan beku tufa dan ada juga batuan andesit. Ditempat ini kami melihat terdapat perbedaan warna antar dinding tebing (batuan). Panitia menjelaskan bahwa perbedaan warna ini disebabkan perbedaan kandungan mineral yang terdapat didalam masing-masing batuan. Karena warna batuan didominasi kuning, maka panitia menjelaskan bahwa warna kuning diperoleh akibat kandungan feldspar didalamnya. Lalu, faktor lain adalah lokasi batuan yang terpapar sinar matahari juga ikut serta merubah warna batuan dari warna aslinya.



Gambar diatas menunjukan perbedaan warna batuan. Ada yang berwarna kuning kecoklatan dan ada yang lebih putih terang. Di gambar juga terlihat air terjun yang kami maksud dalam perjalanan kami kali ini. Di tempat ini kami juga melihat adanya antiklin yaitu lipatan yang memiliki puncak dengan sayap-sayap disebelahnya. Namun, kami tidak mengambil foto antiklin yang dimaksud. Disini kami juga dijelaskan oleh kak Nanda bahwa ini merupakan contoh cari sesar normal. Dimana sudut kemiringan batas antar batuan diatas 45 drajat.


Gambar diatas menunjukan sesar normal yang dimaksud. Sebagai perbandingan, kami masukan foto manusia dibawah dinding batuan.  Ditempat ini pula kami menemukan banyak batuan yang menarik dan memiliki perbedaan satu dan lainnya. Berikut beberapa batuan yang berhasil kami kumpulkan dari lokasi kedua.





Kesembilan sampel batuan diatas adalah sebagian dari banyaknya jenis batuan yang kami peroleh dari tempat kedua. Meski kami belum dapat mengidentifikasi nama batuan diatas, namun kami dapat menjelaskan sedikit mengenai batuan tersebut berdasarkan penjelasan dari panitia yang kami terima. Batuan (a) adalah batuan beku yang belum kami ketahui kandungan mineralnya. Batuan (b) adalah kumpulan dari mineral silikat yang memerangkap mineral pirit. Akibarnya, didalam bagian putih terlihat kilauan pirit berwarna keemasan. Batuan (c) merupakan batuan beku yang bawahnya tergabung batu marmer. Di bagian itulah terdapat pirit dengan butiran besar kasar. Batuan (d) adalah batuan beku yang diselang selingi dengan batuan marmer (mineral silika). Batuan (e) pada dasarnya sama dengan batuan (b) hanya saja dengan intensitas pirit yang lebih besar daripada silikanya. Batuan (f) adalah batuan yang terkontaminasi feldspar hingga warnanya menjadi kuning. Batuan (g)  adalah batuan dengan mineral silikat yang terkontaminasi feldspar. Batuan (h) adalah batuan berwarna terang dengan kandungan komposisi silikat yang cukup banyak didalamnya. Dan terakhir batuan (i) adalah batuan yang sama dengan batuan (f).

Setelah dilakukan pengamatan dan mengambilan sampel batuan serta gambar dari tempat kedua, perjalanan dilanjutkan ke tempat berikutnya yakni Gunung Kunyit. Disini, kami menemukan batuan beku satu formasi dengan tempat sebelumnya, namun, garis batas batuannya terlihat jelas disini. Disini kami juga menemukan struktur joint yang memanjang menyerupai pensil (columnar joint). Disini pula panitia yang diwakili kak Deka menjelaskan bahwa lokasi Lampung ini diantara cekungan sunda dan cekungan sumatera selatan serta memiliki lampung high yang membedakannya dengan lokasi lain di sumatera.  


Gambar diatas adalah gambar yang diperoleh di gunung kunyit. Disebelah kiri adalah batuan yang memiliki batas antar lapisan dengan jelas dan kemungkinan ada antiklin atau siklin dibawahnya sedangkan disebelah kiri adalah columnar joint. Disini, kami juga mendapat beberapa sampel batuan. Diantaranya yakni :


Gambar (a) merupakan batuan sedimen hasil pengendapan. Disana terlihat jelas garis batas pengendapannya. Gambar (b) merupakan batuan metamorf jenis marmer dengan batuan induk yang merupakan batuan beku. Dan gambar (c) adalah batuan sedimen dengan kandungan mineral feldspar dan silika sehingga berwarna kuning dengan bintik putih. Difoto tidak terlihat batas pengendapan. Namun aslinya, terlihat jelas.

Setelah ini, perjalanan dilanjutkan menuju pantai ketapang.  Perjalanan ke daerah ini memakan waktu cukup lama yakni sekitar 1 jam dari lokasi tiga. Diperjalanan ke pantai ketapang, kami melakukan pencatatan data GPS lagi yakni di daerah sukamaju arah ke lempasing, tepatnya didepan Evi cell. Hingga akhirnya tiba di pantai ketapang pukul 11.58 WIB. Kami tidak langsung melakukan pengamatan disini, karena sebagian rombongan belum sampai akibat kendala pada kendaraan yang ditumpangi. Rombongan panitia dan peserta tiba sekitaran pukul 01.30 WIB dan setelah sholat dzuhur serta makan siang, kami melakukan pengamatan di daerah ini.

Di pantai ketapang ini, terlihat singkapan sempurna membentuk kekar kearah daratan. Dari informasi yang kami peroleh dari kak Medi dan kak Deka, daerah ini merupakan daerah pertemuan dari sesar panjang dan sesar semangko yang di sebut ulu simpang. Batuan yang terangkat merupakan batuan beku jenis tufa. Kami tidak melakukan pengambilan gambar di lokasi ini karena kondisi cuaca yang sedang hujan dan tidak memungkinkan untuk membawa barang elektronik ke lokasi pengamatan. Namun kami mengambil sampel batuan dari kekar tersebut.



Gambar diatas kiri adalah sampel batuan dari kekar yang dimaksud. Dan gambar kanan adalah foto batuan yang jenisnya sama dengan lokasi pengamatan. Hanya saja lokasinya sedikit jauh lebih kurang 200 meter dari titik pengamatan. Di pantai ini juga berserakan banyak batuan dan diantara banyak batuan tersebut, kami menemukan dua sampel batuan yakni batu sedimen koral dan batu konglomerat jenis sedimen aquatis.



Setelah pengamatan selesai, peserta diberi waktu untuk istirahat dan persiapan presentasi. Karena tiap kelompok akan diminta untuk presentasi hasil pengamatan  dari awal keberangkatan hingga titik akhir yakni pantai ketapang. Presentasi dimulai pada pukul 04.30 WIB dan selesai sekitar pukul 05.00 WIB. Waktu banyak terbuang di daerah ini karena cuaca yang kurang bersahabat juga karena ditempat inilah free time diadakan. Setelah presentasi diadakan, diperoleh kelompok terbaik. Setelah itu acara penutupan dimulai, dan dengan singkat acara resmi ditutup oleh ketua Hima TG Bhuwana kak Guspriandoko dilanjutkan dengan pembagian cindera mata navigasi darat dari panitia ke peserta. Dengan ditutupnya acara navigasi darat ini berakhir pula rangkaian kegiatan hari itu. Pesertapun diberi waktu untuk berganti pakaian, sholat maghrib, dan sekitar pukul 18.15 kami pulang. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam hingga sampai kembali di titik awal (Jurusan Teknik Geofisika Unila) pada pukul 19.35 WIB.



Gambar diatas adalah gambar pantai ketapang. Terlihat serakan batuan pada pantai yang didominasi batu endapan sedimen aquatis dan karang koral juga kulit atau cangkang kerang. Lokasi pantai yang belum terlalu dijamah membuat kondisinya masih alami dan batuan yang terdapat jauh dari kontaminasi manusia. Begitupun kekar yang terdapat diujung pantai, belum ada aktifikas manusia diatasnya.

Kesimpulannya, bahwa Lampung memiliki lampung high yang merupakan pembeda provinsi Lampung dengan yang lain. Selain itu, tempat pertama dan kedua adalah satu formasi batuan yang sama dan masuk ke sesar panjang. Tempat ketiga merupakan bagian dari lampung high terdapat columnar joint disana. Tempat terakhir merupakan titik pertemuan dari sesar panjang dan sesar semangko disebut ulu simpang yakni di ujung pantai ketapang.

Berikut adalah data rekaman GPS (Global Positioning System) yang kami catat.

No
Lokasi Plot
Jam
(WIB)
X
Y
Elevasi (Z)
1
Jurusan TG Unila
08.22
0526703
9407384
124 mdpl
2
BNI Unila
08.39
0526763
9406524
135 mdpl
3
RM Samudra
08.52
0530200
9404228
105 mdpl
4
RM Begadang V
Hotel Nusantara
09.02
0532087
9403510
113 mdpl
5
PT Readymix Indonesia
Way Gutak
09.09
0532818
9400204
74 mdpl
6
Gunung Balau
09.15
0535055
9398592
112 mdpl
7
Air Terjun bay pass
09.45
0534663
9398196
39 mdpl
8
Gunung Kunyit
10.28
0531295
9398000
15 mdpl
9
Sukamaju arah Lempasing
Evi Cell
11.18
0527633
9394224
11 mdpl
10
Pantai Ketapang
11.58
0525779
9382062
13 mdpl

 (Kelompok 1, Edited by SainTek)

1 komentar:

  1. Kok di foto batuan di sampingnya ada uang seribunya dg peletakan uang yg sama, kenapa ya kak?

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini
HIMA TG Bhuwana

geofisikaunila.blogspot.com pindah ke himatg.eng.unila.ac.id